Tari Piring

fungsi tari piring


Fungsi Tari Piring adalah untuk memberikan ucapan syukur kepada dewi padi pada saat musim panen tiba, yang dimana telah memberi hasil panen yang melimpah kepada masyrakat minangkabau. Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piring sebagai media utama. Piring-piring tersebut kemudian diayun dengan gerakan-gerakan cepat yang teratur, tanpa terlepas dari genggaman tangan.

Seni tari piring saat ini sudah berubah semenjak datangnya agama islam di Minangkabau tari piring tidak lagi untuk persembahan para dewa, tapi ditujukan untuk hiburan yang biasanya dihadiri oleh para raja atau para pembesar negeri, tari piring juga dipakai dalam acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.

Gerakan Tari Piring

Gerakan tari piring pada umumnya adalah meletakkan dua buah piring di atas dua telapak tangan yang kemudian diayun dan diikuti oleh gerakan-gerakan tari yang cepat, dan diselingi dentingan piring atau dentingan dua cincin di jari penari terhadap piring yang dibawanya.

Pada akhir tarian, biasanya piring-piring yang dibawakan oleh para penari dilemparkan ke lantai dan kemudian para penari akan menari di atas pecahan-pecahan piring tersebut. Tarian ini diiringi oleh alat musik tradisional yaitu talempong dan saluang. Jumlah penari biasanya berjumlah ganjil yang terdiri dari tiga sampai tujuh orang. [1]

Makna Tari Piring

Tari Piring memiliki nilai-nilai trasedental, yang dimana nilai-nilai trasendental ini terdapat dalam tata cara pelaksanaan Tari Piring.

Dimana piring-piring yang dipegang oleh para penari ini disusun keatas,dimana menunjukan bahwa piring diatas bertujuan untuk kearah tuhan(trasendental) dan juga terlihat dalam fungsi dan tujuan tari piring ini merupakan mengucapakan rasa bersyukur dan terima kasih kepada Tuhan.

Referensi   [ + ]

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Piring